Negeri Kupu-Kupu Di Selatan Manusela
)* oleh Daryanto
Negeri adalah istilah yang sering dipakai untuk menyebut desa, dipimpin oleh Ketua Adat atau Bapak Raja. Piliana termasuk salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Manusela, Maluku Tengah. Letaknya yang berbukit dengan ketinggian 490 mdpl memiliki kisah yang menarik. Konon, asal mula negeri dengan jumlah penduduk sekitar 504 jiwa ini dirintis oleh orang Belanda, yaitu Tuan Wenkel. Bersama warga negeri Hatu melakukan perjalanan ke daerah Layatolu untuk membangun sebuah negeri. Namun di Layatolu tidak ada sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bercocok tanam. Selanjutnya perjalanan mereka teruskan ke Lilio, kondisi kontur yang tidak memungkinkan akhirnya berpindah ke lokasi baru yaitu Piliana. Piliana berasal dari kata Pilianika yang berarti tempat terang. Ada dua Famili yang mendiami negeri Piliana yaitu Ilelapotoa dan Latumutuani.
Cuaca yang kurang bersahabat tidak mematahkan langkah saya bersama ketiga rekan menyeberangi laut banda menuju negeri Piliana di akhir juni 2011. Untuk mencapai Piliana kami menyeberang menggunakan ketinting dari Tehoru, salah satu kecamatan di Maluku Tengah. Mengingat angin timur biasanya berpengaruh pada gelombang laut yang tidak bersahabat. Kami merencanakan menyeberang di pagi hari. Sekitar satu jam menyeberangi laut Banda tibalah di negeri Yaputih. Dua pemandu sudah menyambut kami, mengajak singgah sejenak sebelum berkemas dan bertolak menuju Piliana. Kami harus mengemas barang serta peralatan senyaman mungkin, mengingat jalan setapak dan tanjakan selama hampir tiga jam harus kita tempuh. Dari Yaputih, kami bertolak menuju Piliana. Yaputih adalah salah satu Pintu masuk menuju Piliana selain negeri Hatumete.
Awal perjalanan, kami melewati kebun-kebun milik masyarakat setempat. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa kebun, cokelat, pala, dan durian yang menjadi daya tarik tersendiri. Beruntung, kami berjalan saat musim durian tiba. Di muka jalan terlihat sekelompok anak muda sedang menunggui durian jatuh. Tanpa segan kami menghampirinya. Sedikit berbasa-basi, saya mencoba bertanya seputar aktifitas mereka. “Menunggui durian jatuh mas,” Ujar Teli. Pemuda tanggung yang kami kenal humoris itu juga menjelaskan rutinitasnya. Saat musim durian tiba, para pemuda biasa menunggu durian masak di kebunnya, hasilnya mereka jual ke kota. Suasana keakraban semakin hangat ketika kami menukar satu bungkus rokok dengan lima buah durian masak yang baru jatuh dari tangkainya.
Satu jam berselang, kami masih harus menempuh jalur setapak yang terjal, melewati aliran sungai dan anakan sungai yang berhulu dari kawasan Manusela. Tak jarang kami berpapasan dengan warga yang turun gunung atau pergi berkebun. Tibalah kami di pintu masuk negeri Piliana, Dua pasang kupu-kupu Goliath yang terbang menari-nari seolah menyambut kedatangan kami, cukup membayar rasa letih setelah berjalan hampir tiga jam.
Rasa penasaran akan keelokan kupu-kupu sedikit tertunda, saat awan mendung mulai menggantung. Menyadari kupu-kupu sulit keluar saat hujan tiba, kami memutuskan untuk singgah di rumah Bapak Raja Piliana, Ferdinan Ilelapotoa. Sembari istirahat kami berbincang seputar kupu-kupu yang terdapat di Piliana. ”Kupu-kupu di wilayah ini banyak berasal dari kawasan TN Manusela, sering warga memburu sampai kawasan,” kata Bapak Ferdinan. Menyadari populasi yang semakin menurun perburuan pun mulai berkurang. Bahkan warga mulai menangkarkan kupu-kupu endemik seram. Diantaranya adalah Goliath dan Priamus. Selain itu masyarakat juga menyadari bahwa tanpa menangkap dan menjual, keuntungan bisa didapat. Karena banyak wisatawan yang ingin melihat keberadaan Goliath di habitat aslinya. Ferdinan juga menuturkan bahwa jalur Piliana adalah jalur yang sering dilewati pendaki menuju puncak Binaya, puncak tertinggi di Maluku. Hal ini menjadi salah satu sebab pentingnya menjaga flora fauna di kawasan.
Sore hari tiba, beserta dua pemandu yang menjadi penunjuk jalan, kami memutuskan menuju lokasi Lelesiru. Setibanya di lokasi, langsung mendirikan tenda untuk bermalam. Ocehan binatang malam dan dinginnya angin gunung larut hingga mentari tiba. Esok hari cuaca cerah memihak pada kami, kawanan kupu-kupu yang melimpah terlihat berterbangan membebar menawan. Beberapa ada yang hinggap di pohon Gey. Kupu-kupu menyukai pohon ini, bunganya berwarna putih sering menjadi makanannya. Jenis kupu-kupu yang kami jumpai yaitu, Goliath (Ornithoptera goliath) warna sayap hitam adalah ciri dari Goliath betina, sedangkan kuning adalah Goliath jantan. Selain itu kami menemukan jenis Priamus (Ornithoptera priamus),Oblong jantan (Troides oblongomaculatus), Oblong betina (Troides oblongomaculatus), Gambreses betina dan jantan (Papilio, Princeps), Obos tanduk rusa (Papilio, Princeps), jenis Bola bola memiliki warna badan dan sayap kecoklatan dengan ukuran lebar sayap ± 10 cm, jenis Loisipe warna dominan kuning dengan orange, berukuran kecil dengan panjang sayap ± 5 cm
Menurut Pak Fauzi, yang juga menjadi pemandu kami menuturkan, saat masih berburu kupu-kupu, hampir tiap minggu berburu kupu-kupu, ya lumayan lah, satu jenis biasanya dihargai 75 ribu. Itu kalau obsetannya bagus. Pak Fauzi pun tak canggung mempraktekkan cara berburunya, sampai cara mengopset agar sayap tidak rusak. Ada hal menarik yang kami dapat disini, yaitu cara menagkap si sayap indah menggunakan jaring. Warna merah biasa dipakai untuk menangkap Goliath. Kita lebih mudah menangkap kupu-kupu dengan jaring berwarna tertentu, sesuai warna kesukaan kupu-kupu.
Perjumpaan kami dengan Goliath dan Priamus di alam bebas membawa sensasi lain. Goliath dengan ukuran sayap yang mampu mencapai dua telapak tangan manusia, dan Priamus dengan sayap cantiknya memang lebih indah jika melihatnya terbang di alam, hal itu yang kami rasakan. Menurut SK Mentan tahun 1980, sepesies tersebut sudah teridentifikasi masuk dalam Apendiks II. Jenis tersebut mungkin belum terancam punah pada saat ini, tetapi keberadaannya dapat menjadi terancam jika perdagangannya tidak diatur. Piliana sunguh menyajikan nuansa berbeda, kupu-kupu pun tak canggung membebar di alam, keasrian negeri hingga pesona bentangan kawasan Manusela, memang patut untuk melanggengkanya.